Minggu, 14 Desember 2008

Soren Kierkegaard (1813-1855): Eksistensialisme

Awal kegelisahan meliputi karya-karya Soren Kierkegaard (1813-1855), salah sati pelopor eksistensialisme, yang tidak lama hidup di Denmark pada pertengahan abad XIX:
Aku menempelkan jariku pada eksistensiku-tidak ada baunya. Dimanakah aku? Benda apa yang dinamakan dunia ini? Siapa yang memancingku pada benda ini, dan kini meninggalkanku di sini? Siapakah aku? Bagaimana aku bias berada di dunia? Mengapa tidak dibicarakan denganku dulu?
Bagi Kierkegaard, ketidakbermaknaan eksistensiku menjadikanku gelisah dan putus asa, hampa dan depresi. Kehidupan manusia modern terletak pada kegelisahan dan tak seorangpun yang tidak gelisah pada eksistensinya.
Kehidupan tidak dirancang untuk kesenangan, kata Kierkegaard. Waktu yang diberikan kepada kita untuk eksistensi kita, kita gunakan untuk mengejar kesenangan dan menghindari kegelisahan dari tekanan yang mendalam yakni keputusasaan. Namun kita tidak bisa melarikan diri-seberapa pun menyenangkan dan nyaman hidup ini kita buat dan bersembunyi dari kenyataan. Pada kenyataannya, Kierkegaard bersikeras bahwa kehidupan kita tetap berada dalam kegelisahan dan keputusasaan. Ini merupakan kondisi manusia yang universal. Kita menderita meskipun kita tahu akan hal itu, dan bahkan ketika tidak ada yang perlu ditakutkan, tidak ada yang menjadi objek kegelisahan. Ini karena dalam hati kecil kita, ujar Kierkegaard, kegelisahan sama sekali tidak objektif, kegelisahan itu bersifat subjektif. Kegelisahan adalah ketakutan universal pada suatu yang tidak ada, ketakutan pada ketiadaan atas eksistensi manusia.
Pada salah satu karya awalnya, Either/Or, A Fragment of Life (1843), Kierkegaard menceritakan seorang pemuda yang hidup demi kesenangan. Meskipun dia mengalami berbagai bentuk kesenangan, sensual dan estetik, yang bias dia dapatkan, dia tetap jatuh dalam depresi. Dia lantas berfikir dan memutuskan untuk berbuat sesuatu bagi dirinya, berhenti hidup dalam hedonism dan hidup untuk kewajiban serta tanggung jawab. Dia mengejarkariernya, mencari teman, segera menikah dan berkeluarga, serta mengejar status social dalam masyarakat. Namun kemudian depresi yang sudah dilupakannya kembali, “lebih buruk dari sebelumnya”.
Orang ini telah berbuat sesuatu untuk dirinya, kata Kierkegaard, tetapi dia merasa aing pada dirinya sendiri. Dia tidak tahu bahwa cara untuk menghentikan keputusasaan adalah memilih keputusasaan, menenggelamkan diri dalam keputusasaan sehingga Anda menghentikan kepuasan dan kesenangan, kehilangan segala komitmen pada keluarga, teman, masyarakat, kehilangan pemikiran dan segala keyakinan pada kebenaran ilmu pengetahuan dan filsafat, serta segala prinsip moral. Ketika segala hal tadi hilang tak bersisa, Anda akan berada dalam krisis total, berada di bibir jurang, dan Anda akan bersiap dan yakin kepada Tuhan, Anda akan memilih Tuhan, dan yakin kepada-Nya. Bagi Kierkegaard, hanya keyakinan kepada Tuhan yang bias menghapuskan ketidakberartian eksistensi Anda; hanya kebangkitan kembali agama, dan melepaskan akal, yang bias menghentikan rasa gelisah dan ketidakberdayaan bagi individu dalam dunia modern.

Tidak ada komentar: